Leave a Reply

KOMPAS.com – Kamis (13/10/2016) kemarin, CEO Google Sunder Pichai menulis tweet buat menyatakan belasungkawa atas wafatnya Dennis Ritchie, bapak pemrograman yg menciptakan bahasa C, sekaligus co-counder Unix yg menjadi cikal bakal sistem operasi modern.

Terima kasih atas kontribusimu yg luar biasa besar, RIP Dennis Ritchie,” kicau Pichai, me-retweet status venture capitalist pelopor GigaOm, Om Malik.

Masalahnya, sebagaimana dirangkum KompasTekno dari Gizmodo, Ritchie sudah meninggal dunia genap lima tahun lalu. Di dalam tweet yg diunggahnya pun, Malik menyertakan sebuah artikel Wired terbitan 2011.

Tweet Pichai langsung diikuti oleh para tokoh yang lain di dunia teknologi yg agaknya tidak mengetahui bahwa Ritchie, salah sesuatu pendiri dunia komputer modern itu, sudah lama wafat.

Daftar mereka yg berbelasungkawa termasuk pelopor Craiglist Craig Newmark dan direktur Wikimedia Foundation Katherina Maher. Figur-figur publik yang lain kemudian turut nimbrung dalam sebuah salah paham besar.

Rithcie pun seakan meninggal dunia beberapa kali. Fenomena di sosial media ini dikenal dengan istilah “second death syndrome”.

Fenomena bersangkutan timbul bukan cuma karena keinginan pengguna bagi berbagi saja, namun juga didorong oleh algoritma media sosial yg kerap memunculkan kembali topik lama di newsfeed pengguna.

Malik kemudian menunggah tweet berisi permintaan maaf karena sudah menimbulkan kekeliruan. “Ritchie meninggal 5 tahun dahulu dan aku tidak menyadari tanggalnya,” kicau dia sambil mencantukan akun Twitter Pichai.

Tapi bola salju terlanjur menggelinding. Sebuah obituari dari New York Times yg bertanggal 13 Oktober 2011 sempat masuk sebagai “top news” di Twitter karena banyak dicari orang.

Pun demikian, tidak ada salahnya kembali mengenang jasa Ritchie. Linux, Android, Mac OS, dan iOS, dan JavaScript yaitu turunan dari Unix dan bahasa C ciptaan dia, demikian pula dengan banyak software yang lain yg jumlahnya tidak terhitung.

Sumber: http://tekno.kompas.com

Share this: