Leave a Reply


JAKARTA, KOMPAS.com – Pakar teknologi dan keterangan Indonesia Onno W Purbo menilai ketersediaan akses internet di Indonesia masih jauh dari cukup.

Ia memperkirakan baru sekitar 20 persen warga Indonesia yg mampu menikmati akses internet. Sementara sisanya masih kesulitan menjangkau akses tersebut.

Padahal, menurut Onno, Persatuan Bangsa Bangsa menyatakan bahwa akses internet yaitu salah sesuatu hak asasi manusia.

“Jadi Kementerian Komunikasi dan Informatika melanggar HAM sebenarnya. Pasti pusing dia langsung,” kelakar Onno sambil tertawa ketika mengisi segmen “Berbagi Iptek” dalam acara Kompasianival di gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (8/10/2016).

Onno mengatakan, pemerintah pernah menargetkan 50 persen warga Indonesia telah memakai internet. Faktanya, hingga tahun ini, target tersebut tidak terpenuhi.

“Itu tahun 2015. Ini kan tak sesuai targetnya,” kata Onno.

Baca: Menkominfo: 2019, Internet Cepat Merata di Seluruh Indonesia

Onno berharap Kemenkominfo mampu langsung meningkatkan penyebaran penggunaan internet hingga ke desa dan pelosok.

Sebagai informasi, pemerintah lewat program Palapa Ring tengah mempersiapkan penyebaran akses internet ke segala pelosok Indonesia. (Baca: Mangkrak 10 Tahun, Proyek Palapa Ring Ditargetkan Rampung 2018)

Menurut Onno, ada cara “curang” agar masyarakat di pelosok mampu mendapatkan akses internet. Dengan gayanya yg santai dan nyentrik, ia membeberkan trik membangun jaringan internet di desa yg tidak terjangkau internet yg disediakan pemerintah.

“Gampang saja tekniknya, modalnya tak mahal dan tak ribet. Tidak perlu pakai alat canggih juga,” kata dia.

Cukup dengan membeli antena yg bentuknya seperti antena TV dan antena bulat. Kemudian disambungkan sehingga menjadi repeater. Harga komponennya pun cukup terjangkau dan mampu dibeli di toko elektronik. Untuk jaringan 3G, harga antenanya dapat lebih mahal.

Solusi yg dimaksud oleh Onno adalah Open Base Transceiver Station, atau disingkat OpenBTS. OpenBTS adalah sebuah perangkat BTS GSM berbasis software, yg memungkinkan pengguna ponsel bagi menelepon dan berinternet tanpa memakai jaringan operator seluler.

“Sinyalnya bagus, tetapi ini melanggar hukum,” kata Onno disambut tawa peserta.

Baca: OpenBTS Terlarang, Balon Internet Google Melenggang

Perangkat telekomunikasi itu pernah diterapkan di Wamena, Papua. Onno mengatakan, karena gampang mendapatkan bahan dan mengoperasikannya, maka guru sekolah dasar pun dapat merakitnya. (Baca: Dasar-Dasar Merakit OpenBTS ala Onno Purbo)

Namun, sekali lagi Onno mengingatkan bahwa cara merakit tersebut tak dibenarkan oleh hukum.

Baca: Onno Purbo Pamer OpenBTS di Forum Internet Dunia


Sumber: http://tekno.kompas.com
Share this:


JAKARTA, KOMPAS.com – Pakar teknologi dan keterangan Indonesia Onno W Purbo menilai ketersediaan akses internet di Indonesia masih jauh dari cukup.

Ia memperkirakan baru sekitar 20 persen warga Indonesia yg mampu menikmati akses internet. Sementara sisanya masih kesulitan menjangkau akses tersebut.

Padahal, menurut Onno, Persatuan Bangsa Bangsa menyatakan bahwa akses internet yaitu salah sesuatu hak asasi manusia.

“Jadi Kementerian Komunikasi dan Informatika melanggar HAM sebenarnya. Pasti pusing dia langsung,” kelakar Onno sambil tertawa ketika mengisi segmen “Berbagi Iptek” dalam acara Kompasianival di gedung Smesco, Jakarta, Sabtu (8/10/2016).

Onno mengatakan, pemerintah pernah menargetkan 50 persen warga Indonesia telah memakai internet. Faktanya, hingga tahun ini, target tersebut tidak terpenuhi.

“Itu tahun 2015. Ini kan tak sesuai targetnya,” kata Onno.

Baca: Menkominfo: 2019, Internet Cepat Merata di Seluruh Indonesia

Onno berharap Kemenkominfo mampu langsung meningkatkan penyebaran penggunaan internet hingga ke desa dan pelosok.

Sebagai informasi, pemerintah lewat program Palapa Ring tengah mempersiapkan penyebaran akses internet ke segala pelosok Indonesia. (Baca: Mangkrak 10 Tahun, Proyek Palapa Ring Ditargetkan Rampung 2018)

Menurut Onno, ada cara “curang” agar masyarakat di pelosok mampu mendapatkan akses internet. Dengan gayanya yg santai dan nyentrik, ia membeberkan trik membangun jaringan internet di desa yg tidak terjangkau internet yg disediakan pemerintah.

“Gampang saja tekniknya, modalnya tak mahal dan tak ribet. Tidak perlu pakai alat canggih juga,” kata dia.

Cukup dengan membeli antena yg bentuknya seperti antena TV dan antena bulat. Kemudian disambungkan sehingga menjadi repeater. Harga komponennya pun cukup terjangkau dan mampu dibeli di toko elektronik. Untuk jaringan 3G, harga antenanya dapat lebih mahal.

Solusi yg dimaksud oleh Onno adalah Open Base Transceiver Station, atau disingkat OpenBTS. OpenBTS adalah sebuah perangkat BTS GSM berbasis software, yg memungkinkan pengguna ponsel bagi menelepon dan berinternet tanpa memakai jaringan operator seluler.

“Sinyalnya bagus, tetapi ini melanggar hukum,” kata Onno disambut tawa peserta.

Baca: OpenBTS Terlarang, Balon Internet Google Melenggang

Perangkat telekomunikasi itu pernah diterapkan di Wamena, Papua. Onno mengatakan, karena gampang mendapatkan bahan dan mengoperasikannya, maka guru sekolah dasar pun dapat merakitnya. (Baca: Dasar-Dasar Merakit OpenBTS ala Onno Purbo)

Namun, sekali lagi Onno mengingatkan bahwa cara merakit tersebut tak dibenarkan oleh hukum.

Baca: Onno Purbo Pamer OpenBTS di Forum Internet Dunia


Sumber: http://tekno.kompas.com
Share this: