Leave a Reply


KOMPAS.com – Belakangan ini, menurut pantauan KompasTekno, ada tren baru di dunia smartphone di Asia, khususnya Indonesia. Para pengguna perangkat akan menggandrungi aplikasi live streaming, seperti Bigo Live, Nonolive, dan Live.me.

Aplikasi yg dimaksud bukanlah aplikasi streaming video seperti Facebook Live atau YouTube. Di aplikasi yg telah disebutkan di atas, siapa saja mampu menjadi artis.

Pengguna mampu menjadi penyiar dengan membuat semacam ruang siaran sendiri yg bisa ditonton oleh pengguna lainnya.

Si penyiar nantinya dapat mendapatkan uang berbentuk Gift dari para penontonnya. Tentunya, si penyiar harus membuat acara semenarik mungkin agar penonton mau memberikan Gift tersebut.

Akan tetapi, ada aturan yg cukup ketat buat urusan penyiaran tersebut. Si penyiar memang diizinkan buat bebas berekspresi.

Hanya saja, ada aturan yg sebaiknya diketahui sebelum melakukan siaran. Jika tidak, mampu saja si penyiar itu mendekam di penjara!

Ada dua aturan ketat yg harus dipatuhi. Salah satunya, penyiar diminta buat tak membuat acara yg mengandung pornografi, kekerasan, dan sederetan aturan lain.

Akan tetapi, pelanggaran di atas biasanya tak disertai dengan hukuman yg terlalu keras. Si penyiar cuma mulai di-banned (tidak mampu login). Periode banned tersebut bervariasi, dari cuma dua jam hingga hitungan hari.

Hukuman keras baru mulai menimpa penyiar yg melanggar hak cipta. Memang bukan pihak aplikasi yg mulai menuntut si penyiar tersebut. Pihak pembuat film yg mampu saja membawa penyiar ke meja hijau, seperti yg terjadi dua waktu lalu.

Bagaimana ceritanya?

Nibras Nada Nailufar Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya Kombes M. Fadil Imran bersama kuasa hukum Falcon Pictures Lydia Wongso di Mapolda Metro Jaya, Selasa (27/9/2016).

Ceritanya berawal ketika P, inisial salah seorang pengguna aplikasi Bigo Live, melakukan live streaming memakai aplikasi Bigo dalam bioskop, ketika menonton film Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss Part 1.

“Pelaku ini merekam film secara segera di bioskop saat menyaksikan film tersebut di bioskop Ambarukmo Plaza,” kata Dirkrimsus Polda Metro Jaya, Kombes M. Fadil Imran.

Kala itu, P menyampaikan bahwa ia tidak tahu aksinya ini melanggar hukum, terutama hak cipta. P juga mengaku ia cuma iseng mengunggah film itu ke dunia maya.

Jumlah penonton live streaming tersebut tak diketahui detailnya. Akan tetapi, yg dikerjakan P dapat membuat produsen film, Falcon Picture, menyadari bahwa filmnya itu “bocor” di internet.

Falcon Picture pun mengambil langkah tegas, melaporkan P ke polisi.

“Semalam beredar, kita telah bicara sama pengacara kami. Sedang diselidiki. Kami nanti mulai mengajukan pelaporan,” kata produser Falcon Picture, Frederica, dalam jumpa pers di XXI Plaza Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (9/9/2016).

Frederica mengaku kali pertama mengetahui hal itu dari para kru dan pemain yg lebih lalu mendapat keterangan dari media sosial.

Pihak Falcon Picture menilai tindakan tidak bertanggung jawab itu yaitu pelanggaran hak cipta dan termasuk kategori pembajakan.

Sudah jadi tersangka

Bagaimana nasib P ketika ini? Pihak kepolisian sudah memutuskan P, seorang perempuan berusia 31 tahun, sebagai tersangka.

P diamankan di kediamannya di Jakarta pada Senin (26/9/2016). Kendati demikian, polisi tak menahan P. Ia cuma dikenakan wajib lapor dan memenuhi panggilan penyidik.

“Pelakunya tak kami tahan dengan pertimbangan berkas kasus kami lanjutkan. Dia kooperatif, dan telah meminta maaf,” kata Fadil.

Pelaku dijerat dengan Undang-undang Hak Cipta serta Pasal 48 Undang-Undang Nomor 11 tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Ancaman hukumannya, 10 tahun penjara dan denda paling banyak Rp 4 miliar.

Pelajaran yg dapat dipetik

Dari masalah tersebut, bisa kelihatan bahwa aplikasi live streaming, meskipun bebas digunakan, milik aturan yg ketat.

Memang aturan tersebut milik sanksi yg tak terlalu berat dari pembuat aplikasi. Akan tetapi, sanksi mampu saja menjadi sangat keras seandainya pelanggaran yg dikerjakan telah melanggar undang-undang, seperti masalah yg dialami oleh P.

Sebelum memakai atau menjadi penyiar di aplikasi live streaming, sebaiknya ketahui peraturan yg ada. Jangan pula melanggar aturan tersebut, seandainya tak mau terkena sanksi berat.
Sumber: http://tekno.kompas.com
Share this: